Tampilkan postingan dengan label Psikologi Perkembangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Perkembangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Oktober 2013

JEAN PIAGET

Tokoh Psikologi Perkembangan Kognitif

Jean Piaget, seorang psikolog dan pendidik berkebangsaan Swiss, terkenal karena teori perkembangan kognitifnya. Jean Piaget lahir pada 9 Agustus 1896 di Neuchatel, Swiss. Ia adalah anak seorang sejarawan. Masa kanak-kanak Jean Piaget banyak dipengaruhi oleh apa yang ia lihat pada ayahnya, seorang pria yang berdedikasi pada penelitian dan pekerjaannya. Karenanya, sejak kanak-kanak dia sangat suka belajar, terutama dalam hal ilmu pengetahuan alam. Saat dia berumur sebelas tahun, tulisannya tentang burung gereja "albino` diterbitkan -- yang pertama dari ratusan artikel dan lebih dari lima puluh buku. Beberapa kali, saat memberikan karyanya untuk diterbitkan dalam berbagai redaksi majalah, Piaget dipaksa untuk merahasiakan usianya yang masih muda. Banyak editor menganggap penulis muda tidak memiliki kredibilitas.

Apa yang dilakukannya untuk membantu mengategorikan koleksi museum zoologi Neuchatel, menginspirasi penelitiannya terhadap kerang-kerangan. Salah satu artikelnya, yang ia tulis saat berumur lima belas tahun, membuatnya ditawari sebuah pekerjaan di museum zoologi di Jenewa, Swiss; ia menolak tawaran itu untuk melanjutkan pendidikannya. Ia menyelesaikan pendidikan ilmu pengetahuan alam di Universitas Neuchatel pada 1916 dan mendapat gelar doktoral untuk penelitian atas kerang-kerangan pada 1918.

KARIER AWAL
Ayah angkat Piaget mengenalkannya pada filsafat (penelusuran terhadap pengetahuan). Biologi (studi terhadap makhluk hidup) kemudian digabungkan dengan epistemologi (studi pengetahuan), keduanya mendasari teori pembelajarannya di kemudian hari. Bekerja di dua laboratorium psikologi di Zurich, Swiss, membuatnya mengenal psikoanalisis (studi proses kejiwaan). Di Paris, tepatnya di Soborne, ia mempelajari psikologi abnormal (studi penyakit jiwa), logika, dan epistemologi. Dan pada 1920, dengan Théodore Simon di Laboratorium Binet, ia mengembangkan tes pemikiran yang telah distandarisasi (tes universal).

Setelah tahun 1921, Jean menjadi direktur penelitian, asisten direktur, dan kemudian wakil direktur di Jean Jacques Rousseau Institute (Institut Jean Jacques Rousseau), yang kemudian menjadi bagian Geneva University (Universitas Jenewa), di mana ia menjadi profesor sejarah dalam bidang pemikiran ilmiah (1929-1939). Dia juga mengajar di universitas-universitas Paris, Lausanne dan Neuchatel. Dia menjadi ketua International Bureau of Education (Biro Pendidikan Internasional) dan adalah duta United Nations Economic and Scientific Committee (UNESCO) Swiss.

Pada 1923, ia menikah dengan salah seorang rekan kerja mahasiswa, Valentine Châtenay. Pada tahun 1925, putri pertama mereka lahir, pada tahun 1927, putri kedua mereka lahir, dan pada tahun 1931, satu-satunya anak laki-laki lahir. Mereka segera menjadi fokus pengamatan intensif oleh Piaget dan istrinya.

STUDI ANAK-ANAK
Piaget menemukan empat tahap pertumbuhan mental saat mempelajari anak-anak, terutama anaknya sendiri: tahap motor-sensoris, dari lahir hingga usia 2 tahun, saat struktur mental terfokus pada objek konkrit (nyata); tahap praoperasional, usia 2 -- 7 tahun, saat anak-anak belajar simbol-simbol dalam bahasa, khayalan, permainan, dan mimpi; tahap operasional konkret, usia 7 -- 11 tahun, saat anak-anak menguasai klasifikasi, relasi, angka, dan cara pikir (mengambil kesimpulan) tentang mereka; terakhir adalah tahap operasional formal, sejak usia 11 tahun, saat mereka mulai menguasai pemikiran independen dan pemikiran orang lain.

Piaget percaya bahwa pemahaman anak-anak setidaknya melalui tiga tahap pertama yang berbeda dari orang dewasa, yaitu didasarkan pada keaktifan mereka menjelajahi lingkungan daripada pemahaman bahasa. Pada tahap-tahap ini, anak-anak secara alami belajar tanpa dimotivasi hukuman atau hadiah. Piaget melihat sifat dasar (keturunan atau karakteristik yang diturunkan oleh orang tua) dan pemeliharaan (lingkungan) sangat berhubungan dan sama-sama penting. Dia menemukan bahwa gagasan-gagasan anak-anak tentang alam tidak diturunkan dari orang tua atau pun dipelajari, namun terbentuk dari struktur dan pengalaman mental mereka. Pertumbuhan mental terjadi karena integrasi, atau mempelajari gagasan-gagasan yang lebih berat dengan menyerap gagasan-gagasan yang lebih mudah dipahami, dengan pergantian, atau menggantikan penjelasan awal tentang suatu kejadian atau ide, dengan penjelasan yang lebih masuk akal. Anak-anak belajar pada tahap spiral pemahaman yang menuju ke atas, yang disertai oleh masalah yang sama pada setiap tahap. Namun demikian, semakin naik tahap tersebut, semakin menyeluruh pula penyelesaian dari masalah tersebut.

Psikolog Harvard, Jerome Bruner (1915), dan psikolog lainnya memerkenalkan gagasan Jean kepada Amerika Serikat sekitar tahun 1956, setelah buku-bukunya diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Tujuan pendidikan Amerika pada akhir 1950-an yang adalah untuk mendidik anak tentang bagaimana berpikir, timbul karena gagasan Piaget. Teorinya mengenai tahap perubahan pemikiran dan kedewasaan anak berasal dari percobaan-percobaan dengan anak-anak. Gagasan itu juga sering digunakan dalam teori respons-stimulus (membuat senang untuk mendapatkan tanggapan) oleh para psikolog behavioris (psikolog yang mempelajari tingkah laku) yang meneliti cara binatang mempelajari sesuatu.

Teori Piaget terus berkembang selama bertahun-tahun. Banyak penjelasan lain diungkapkan dan percobaan lain dilakukan, namun semuanya itu tidak mengubah dasar pemikiran dari teorinya.

PENGHARGAAN DAN PENINGGALAN
Piaget menerima gelar kehormatan dari Univeristas Oxford dan Harvard dan memukau banyak peserta konferensi tentang perkembangan dan cara belajar anak. Namun demikian, ia tetap rendah hati dan memilih untuk menghindari sorotan publik. Gaya hidup seperti itu memampukannya untuk lebih lagi mengembangkan teorinya.

Piaget disiplin dalam melakukan pekerjaan sesuai jadwal pribadinya. Ia bangun pagi pukul empat dan menulis setidaknya empat tulisan yang dapat dipublikasikan sebelum mengajar dan menghadiri rapat-rapat. Setelah makan siang, ia akan berjalan-jalan dan merenungkan apa yang menjadi minatnya. "Saya selalu suka memikirkan suatu masalah sebelum membaca sesuatu tentang masalah itu," katanya. Ia banyak membaca sebelum tidur. Setiap musim panas, ia berlibur di pegunungan Alpine, Eropa, dan menulis banyak karya.


Piaget meninggal pada 17 September 1980 di Jenewa, Swiss, dan digadang oleh New York Times sebagai seorang figur yang teorinya "membebaskan dan revolusioner", sama dengan teori Sigmund Freud tentang tahap kehidupan emosional manusia. Banyak orang mengklaimnya sebagai salah satu pemikir ilmiah paling kreatif di Swiss.

Teori Perkembangan Kognitif

Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
* Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
* Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
* Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
* Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)



Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
  1. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubung
  2. an terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan. 
  3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan. 
  4. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek). 
  5. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk menca
  6. pai tujuan.Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
Tahapan pra-operasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain.

Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.

Tahapan operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.

Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)

Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.

Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.

Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.

Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.

Tahapan operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
Informasi umum mengenai tahapan-tahapan

Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 

  • Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur. 
  • Universal (tidak terkait budaya) 
  • Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan 
  • Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis 
  • Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi) 
  • Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif

Moral

1.     Teori Menurut Wiwit Wahyuning Jash dan Metta Rachmadana (2003:3)

Istilah moral jika didefinisikan akan berbunyi,”Moral berkenaan dengan norma-norma umum, mengenai apa yang baik atau benar dalam cara hidup seseorang. Ketika oaring-orang berbicara tentang moral, pada umumnya akan terdengar sebagai sikap dan perbuatan seseorang terhadap orang lain.”

Cirri-ciri anak yang memiliki nilai moral yang baik yaitu,: anak yang memiliki sikap jujur, dapat dipercaya, lembut, penuh kasih sayang, ceria, dan dapat menghargai orang lain.

2.     Teori Menurut Rosmala Dewi(2005:24)

Moral berasal dari bahasa Latin “mores” yang berarti tata cara, kebiasaan, dan adat. Perilaku moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Perilaku tak bermoral adalah perilaku yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat.

Kesimpulan lain tentang moral, yaitu perilaku moral yang tidak dapat dipisahkan dari proses sosialisasi yang terjadi antara mereka. Perilaku yang  tak bermoral, bukan berarti perilaku yang tidak disukai olh masyarakat, melainkan kurangnya penyesuaian diri.

3.     Teori Elizabeth B. Hurlock

Arti perilaku moral berarti perilaku yang sesuai denga kode moral kelompok sosial. “Moral” berasal dari kata latin mores, yang berarti tata cara, kebiasaan, adat. Perilaku moral dikendalikan konsep-konsep moral, peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya dan yang menentukan pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok.

Maka moral adalah uatu tata cara atau ajaran tentang sesuatu yang baik tau buruk. Dalam hal ini perilaku harus dibiasakan terutama sejak usia prasekolah. Moral terbentuk melalui pembiasaan dengan menanamkan sikap-sikap yang dianggap baik.

4.     Teori Menurut Sumadi Suryabrata (2006:2)

Kata watak dipakai dalam arti normatif. Kalau dengan menggunakan kata watak ini orang bermaksud mengenakan norma-normakepada orang yang sedang diperbincangkan. Dalam hubungan denga hal ini, orang dikatakan mempunyai watak kalu sikap, tingkah laku, dan perbuatannya dipandang dari segi-segi norma sosial ialah baik.

Dari uraian diatas diambil kesimpulan watak jika diartikan dalam arti normatif yaitu sikap, tingkah laku, dan perbuatan seseorang dipandang memiliki nilai-nilai moral sosial dengan baik. Pembentukan watak seorang anak akan berpengaruh terhadap akhlak, moral, budi pekerti, etika, dan estetika orang tersebut ketika berinteraksi dan berkomunikasi denga orang lain dalam kehidupan sehari-hari dimanapun ia berada.

5.     Teori Menurut Allport (2006:2)

Allport beranggapan bahwa watak dan kepribadian ialah satu dan sama, akan tetapi dipandang dari segi yang berlainan. Kalau orang bermaksud hendak mengenakan norma-norma, jadi mengadakan penilaian, maka lebih tepat digunakan istilah “watak” dan kalau orang tidak memberikan penilaian, jadi menggambarkan apa adanya, maka dipakai istilah”kepribadian.

Maka dapat ditarik kesimpulan bahawa menurut Allport watak dan kepribadian memiliki arti yang sama, akan tetapi memiliki arti yang berbeda jika dilihat dati sudut pandang yang berbeda.

Watak adalah sikap, tingkah laku seseorang yang dipandang dari norma-norma sosial. Adapun kepribadian ialah menggambarkantingkah laku seseorang dengan apa adanya. Adapun factor-faktor yang mempengaruhi kepribadian seseorang ialah, faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri orang itu sendiri. Faktor internal ini merupakan factor genetic atau bawaan. Kedua ialah faktor eksternal, faktor ini merupakan pengaruh yang berasal dari lingkungannya. Lingkungan keluarga, tempat seorang anak tumbuh dan berkembang akan sangat berpengaruh terhadap kepribadian seorang anak.

6.     Teori Menurut Irwan Prayitno (2003:7)

Para ilmuwan dan pendidik selama bertahun-tahun mendebatkan, tentang terbentuknya watak. Pendapat yang menyatakan anak dilahirkan dengan membawa keturuna watak. Cara tertentu membuat orang terlepas dari tanggung jawab dalam membantu anaknya mengubah perilaku anak. Banyak ahli mulai menerima apa yang telah diamati orang tua.

Faktor keluarga lainnya ialah kelahiran jumlah saudara kandung, dan peristiwa kehidupan seperti perpindahan, penyakit, perubahan ekonomi, keluarga, dan pekerjaan orang tua. Kesemuannya ini berperan dalam pembentukan watak seorang anak. Bayi yang “baik” berpotensi menjadi “musuh” jika diabaikan tau disiksa. Anak yang “sulit” berpotensi menjadi lebih baik dengan bimbingan orang tua yang sabar.

  Dari uraian tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa banyak orang tua atau pendidik yang berpendapat bahwa watak seorang anak telah ada sejak anak itu lahir ke dunia. Sehingga pernyataan ini membuat para orang tua atau pendidik menjadi tidak bertanggung jawab dan tidak membantu anak untuk mengubah perilaku yang buruk menjadi baik. Sejak lam peran orang tua sering kali tanpa dibarengi pemahaman mendalam tentang pembentukan watak anaknya. Akibatnya, mayoritas orang tua hanya dapat mencari kambing hitam, bahwa anaklah yang bersalah. Seorang anak memiliki perilaku yang demikian sesungguhnya karena meniru cara berpikir dan perbuatan yang sengaja dilakukan oleh orang tua mereka.

7.     Teori Menurut Sigmund Freud (2006:140)

Sigmund Freud, berpendapat bahwa watak pada dasarnya telah terbentuk pada akhir tahun kelima dan perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya merupakan penghalusan struktur dasar ini. Kesimpulan yang demikian itu diambilnya atas dasar pengalamannya
Dalam melakukan psikoanalisis. Penyelidikan dalam hal ini selalu menjurus kea rah masa kanak-kanak, yaitu masa yang mempunyai peranan yang menentuka dalam hal timbulnya neurosis pada tahun-tahun yang lebih kemudian. Freud beranggapan bahwa kanak-kanak dalah ayahnya manusia (the children is the father of man)

Menurut pendapat Freud, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa watak seseorang mulai terbentuk pada akhir tahun keliam. Terutama pada usia anak prasekolah, watak mempunyai peran menentukan sikap dan perilaku seorang anak.

8.     Teori Menurut Hetherington dan Paske (1979)

Bagi anak usia TK, watak mengenal dan menanamkan perasaan yang dialaminya merupakan hal yang sulit. Melaui perkembangan  selanjutnya, anak belajar bagaimana mengekspresikan perasaan, sehingga ia dapat menyatakan perasaan yang sesuai denga usia dan situasi yang dihadapinya. Dan juga dapat belajar menerima dan menghargai perasaan orang lain.

Dari pernyataan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa watak berkaitan dengan perasaan yang dialami anak. Anak dapat belajar untuk mengekspresikan dirinya dan dapat menyatakan perasaannya. Anak juga dilatih untuk menerima dan menghargai perasaan orang lain. Hal ini penting karena merupakan dasar untuk dapat menikmati keadaan dan menyadari kekuatan dirinya. Anak memiliki perasaan bahwa dirinya dapat mengendalikan kehidupannya dan percaya terhadap kemampuannya.

A.    Sikap dan Perilaku Moral

Perilaku yang disebut “moralitas yang sesungguhnya” tidak sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan secara sukarela. Ia muncul bersamaan dengan peralihan kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri atas tingkah laku yang diatur dari dalam, yang disertai perasaan tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing.

Pada awal-awal kehidupannya, seorang anak dibentuk oleh nilai-nilai orang dewasa. Bahkan sebelum seorang anak dilahirkan orangtuannya telah mengungkapkan nilai-nilai mereka dengan cara yang akan mempengaruhi anak-anak mereka. Apabila awal masa kanak-kanak akan berakhir, konsep moral anak tidak lagi sesempit dan sekhusus sebelumnya.  Anak yang lebih besar dapat menemukan bahawa kelompok sosial terlibat dalam berbagai tingkat kesungguhan pada berbagai macam perbuatan.

Kebaikan seorang anak  berumur empat atau lima tahun yang baru akan masuk sekolah, suatu kuncup kebaikan yang telah dimungkinkan, dipupuk, diizin, didorong oleh orang tua-orang tua yang “cukup baik”. Kebaikan semacam ini mulai tampak pada bulan-bulan pertama kehidupan dan lazimnya tidak disebut atau dipikirkan sebagai kebaikan, melainkan sebagai “kodrat” atau “watak” si anak.

Menurut Piaget, relativisme moral menggantikan moral yang kaku. Misalnya, pada anak usia lima tahun berbohong selalu buruk. Adapun anak yang lebih besar sadar bahwa dalam beberapa situasi, berbohong dibenarkan. Oleh karena itu, berbohong tidak selalu buruk.

B.     Perkembangan Moral

Perkembangan moral berkaitan dengan aturan dan konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Perkembangan moral bergantung dari perkembangan kecerdasan. Denagn berubahnya kemampuan menangkap dan mengerti, anak-anak bergerak ke tingkat perkemabangan moral yang lebih tinggi.

Pada waktu perkemabangan kecerdasan mencapai tingkat kematangannya, perkembangan moral juga harus mencapai tigkat kematangannya. Bila hal ini terjadi, individu dianggap sebagai orang yang “tidak matang secara moral”.

Sejak anak pandai berbahasa pada usia dua atau tiga tahun, pendidikan moral berlangsung dengan pesat.  Di sekolah, guru dan anak berinteraksi denag menerapkan kaidah moral, petunjuk moral seperti, berlaku jujur, tidak boleh bohong, tidak boleh mengambil barang orang lain, kebiasaan mengucapkan terima kasih pada orang lain, dan melakukan kebiasaan baik yang lain. Ini semua ditanamkan kepada anak melalui situasi konret dalam kehidupan  sehari-hari.

Pelajaran yang diperlukan dalam pembentukan moral tidak cukup hanya pelajaran yang menyenangkan. Tetapi juga kegagalan, kekecewaan, ketidakberuntungan, juga pelajaran moral yang sangat mendukung pembentukan kepribadian anak yang tangguh. Penanaman moral ini akan lebih berhasil, bila ada perbuatan yang baik disambut dengan reaksi yang menyenangkan, seperti, persetujuan, pujian, dukungan, dan hadiah. Sebaliknya, pada perbuatan yang tidak baik dihubungkan dengan reaksi yang tidak menyenangkan seperti, celaan, hukuman, dan pengasingan sementara.  Dengan demikian, lambat laun kan terbentuk kesadaran batin atau kata hati, yang akhirnya mengganti suara guru atau orang tua dalam menilai setiap perbuatan. Jadi, pengertian dan penilaian baik dan  buruk tidak lagi datang dari luar tetapi datang dari dalam dirinya sendiri. Ia akan merasa bangga dan bahagia jika melakukan perbuatan baik. Sebaliknya, ia akan merasa malu dan bersalah jika ia melakukan  tindakan yang kurang baik.

Dalam mempelajari sikap moral, terdapat empat pokok utama, mempelajari pa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaiman dicantumkan dalam hukum, kebiasaan dan peraturan; mengemabngkan hati nurani; belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu jika perilaku individu tidak sesuai dengan harapan kelompok; dan mempunyai kesempatan interaksi sosial untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok.





Peran yang dimainkan masing-masing pokok tersebut digamabrkan di bawah:

1.     Peran Hukum, Kebiasaan, dan Peraturan dalam Perkembangan Moral

Pokok pertama yang penting ialah belajar apa yang diharapkan kelompok dari anggotanya. Harapan ini diperinci bagi seluruh anggota kelompok dalam bentuk hukum, kebiasaan dan peraturan.

Anak kecil tidak dituntut tunduk pada hukum dan kebiasaan seperti dituntut dari anak yang lebih besar. Tetapi setelah mereka mencapai usia sekolah, mereka secara bertahap diajari hukum yang berlaku.

Secara bertahap anak belajar peraturan ayng ditentukan berbagai kelompok, yaitu kelompok tempat mereka mengidentifikasi diri (rumah, sekolah, dan lingkungan). Jadi, peraturan berfungsi sebagai sumber motivasi untuk bertindak sesuai denagn harapan sosial, sebagaimana hukum dan kebiasaan menjadi pedoman dan sumber motivasi  bagi anak remaja dan orang dewasa.

2.     Peran Hati Nurani dalam Perkembangan Moral

Pengembangan hati nurani sebagai kendali internal bagi perilaku individu. Menurut tradisi, anak dilahirkan dengan “hati nurani,” atau kemampuan untuk mengetahui apa yang benar dan salah.

Sekarang telah diterima secara luas bahwa tidak seorang anakpun dilahirkan denagn hati nurani dan bahwa setiap anak yang tidak saja harus belajar apa yang benar dan salah, tetapi juga harus menggunakan hati nurani sebagai pengendali perilaku. Ini dianggap sebagai salah satu tugas perkembangan yang penting di masa kanak-kanak. Hati nurani juga dikenal dengan sebutan “cahaya dari dalam”, “super ego”, dan “polosi internal”.




3.     Peran Rasa Bersalah dan Rasa Malu dalam perkembangan Moral.

Setelah anak mengemabangkan hati nurani, hati nurani mereka dibawa dan digunakan sebagai pedoman perilaku. Bila perilaku anak tidak memenuhi standar yang ditetapkan hati nurani, anak merasa bersalah, malu, atau kedua-duanya.

 Rasa bersalah telah dijelaskan sebagai “sejenis evaluasi diri khusus yang negative yang terjadi bila seorang individu mengakui bahwa perilakunya berbeda dengan nilai moral yang dirasakannya wajib untuk dipenuhi.” Anak yang merasa bersalah, telah menagkui pada dirinya bahwa perilakunya jatuh dibawah standar yang ditetapkannya sendiri. Tetapi sebelum rasa bersalah dialami, empat kondisi ini harus dipenuhi; pertama,anak-anak  harus menerima standar tertentu mengenai hal yang benar dan salah. Kedua,  mereka harus menerima kewajiban mengatur perilaku mereka agar sesuai dengan standar yang telah mereka terima. Ketiga, mereka harus merasa bertanggung jawab atas setiap penyelewengan dari standar tersebut dan mengakui bahwa mereka, dan bukan orang lain yang harus disalahkan. Dan keempat,mereka harus memiliki kemampuan mengkritik diri yang cukup besar untuk menyadari bahwa suatu ketidaksesuaian antara pelaku mereka dan setandar internal perilaku yang terjadi.

Rasa malu telah denifisika sebagai reaksi emmosional yang tidak menyenangkan yang timbul pada seseorang akibat adanya penilaian negatif terhadap dirinya. Rasa bersalah merupakan salah satu mekanisme psikologi yang paling penting dalam proses sosialisasi, bila anak tidak merasa bersalah, ia tidak akan merasa terdorong untuk belajar apa yang mengharapkan kelompok sosialnya.

4.     Peran Interaksi Sosial dalam Perkembangan Moral

Interaksi sosial memegang peran penting dalam perkembangan moral; pertama dengan memberi anak standar perilaku setujui kelompok sosialnya dan kedua, dengan member mereka sumber motivasi untuk mengikuti standar ini melalui persetujuan dan ketidaksetujuan sosial.

Interaksi sosial awal terjadi dalam kelompok keluarga. Anak belajar dari orang lain, saudara kandung, dan anggota keluarga lain apa yang di anggap benar dan salah oleh kelompok sosial tersebut. Waktu anak-anak sekolah, mereka belajar bahwa tingkah laku mereka dikendalikan oleh pereturan sekolah.

Melalui interaksi sosial, anak tidak saja mempunyai kesempatan untuk belajar kode moral, tetapi mereka juga mendapat kesempatan untuk belajar bagainmana orang lain mengevaluasi perilaku mereka.

Bila anak-anak diterima secara baik oleh teman-teman sebayanya maka interaksi sosial mereka meningkat. Ini memberikan kesempatan belajar kode moral dan motivasi untuk menyesuaikan dengan kode tersebut. Anak yang kurang diterima atau ditolak dan diabaikan dengan teman sebayanya akan kehilangan kesempatan belajar kode moral kelompok dan sering dianggap tidak matang secara moral.

C.     Tahapan-tahapan Perkembangan Moral

Pergertian moral mengacu pada aturan umun mengenai baik-buruk dab benar-salah yang berlaku di masyarakat secara luas. Istilah moral ini berkenaan dengan bagaimana orang seharusnya brperilaku dengan dunia sosialnya. Perubahan dalam hal pengetahuan dan pemahaman aturan ini dipandang sebagai perkembangan moral.

Di bidang psikologi sebenarnya telah banyak tokoh dengan pendekatannya masing-masing yang mempelajari dan menjelaskan fenomena perkembangan moral ini. Satu diantaranya ialah pendekatan kognitif yang dipelopori oleh Piaget dan Lowrence Kohlberg. Pandangan kedua tokoh ini banyak menjadi rujukan dalam pendidikan moral bagi anak.

1.     Tahapan Perkembangan Moral Anak Menurut Piaget

Ketika menganalisis gejala perkembangan moral anak, Piaget memfokuskan diri pada aspek cara berpikir anak tentang isu-isu moral. Cara yang dilakukannya ialah dengan mengamati dan mewawancarai kelompok anak-anak yang terlibat dalam suatu permaianan. Ia mempelajari bagaimana anak-anak ini menggunakan dan memandang aturan yang ada dalam permainan ini. Pertanyaan yang diajukan kepada mereka berkisar tentang isu-isu moral seperti pencurian, berbohong, hukuman, dan keadilan.

Piaget menyimpulkan bahwa anak berpikir tentang moralitas dalam dua tahap moralitas, tergantung pada tingkat perkembangannya. Cara/ tahap yang pertama ialah tahap moralitas heternomus  (heternomus morality) yang terjadi pada anak berusia empat sampai tujuh tahun. Pada tahap perkembangan moral ini, anak menganggap keadilan dan aturan sebagai sifat-sifat dunia (lingkungan) yang tidak berubah dan lepas dari kendali manusia.

Cara/tahap kedua, anak telah menyadari bahwa aturan dan hukum itu diciptakan oleh manusia. Pola pemikiran moral tahap ini oleh Piaget diistilahkan denagn moralitas otonomus (autonomous morality).

Pada tahap heteronomous, anak menimbang perilaku benar dan baik dengan menimbang akibat dari perilaku itu, bukan dari maksud pelaku. Misalnya, anak yang berada pada tahap ini akan mengatakan bahwa memecahkan lima piring secara tidak sengaja akan lebih kelek daripada memecahkan satu piring dengan sengaja. Tetapi bagi anak yang berpikir moral otonomus, yang lebih baik itu ialah yang memecahkan lima piring Karena hal itu dilakukan secara tidak sengaja. Bagi anak yang berpikir moral otonomus, maksud atau niat pelaku yang ada di balik tindakannya dipandang lebih penting daripada sekadar akibatnya.

Anak-anak yang berpikir moral heteronomous juga meyakini bahwa aturan itu ditentukan oleh para pemegang otoritas yang memiliki kekuatan sehingga tidak dapat diubah. Sebaliknya, kelompok anak yang berpikir otonomus memandang bahwa aturan itu hanya berupa kesepakatan belaka. Kesepakatan sosial atau kelompok yang dapat diubah melalui konsensus.

Selanjutnya, anak yang berpikir  heteronomous  juga meyakini bahwa keadilan sebagai sesuatu yang tetap ada. Piaget mengistilahkan dengan immanent justice, yaitu jika aturan dilanggar maka hukuman akan ditimpakan segera. Anak yang berpikir heteronomous meyakini bahwa kejahatan secara otomatis terkait dengan hukuman. Sebaliknya, anak yang berpikir otonomus menganggap hukuman sebagai alat sosial yang dapat dialami dan dapat pula tidak, tergantung kepada kondisinya.

Piaget berpendapat bahwa disaat anak-anak berkembang, mereka mengalami kemajuan dalam pemahaman tentang masalah-masalah sosial. Pemahaman sosial ini muncul melaui interaksi atau saling menerima dan member dalam hubungan teman sebaya. Mereka secara leluasa dapat saling member masukan dan bernegosiasi dalam memecahkan berbagai persoalan yang muncul. Pengalaman tentu merupakan kondisi yang kondusif bagi pengembangan moral anak.

Suasana interaksional seperti dalam kelompok teman sebaya diatas, menurut Piaget sulit ditemukan dalam hubungan orang tua-anak atau hubungan guru-anak, orang tua atau guru, lazimnya memiliki kekuasaan yang lebih daripada anak sehingga aturan-aturan sering ditentukan secara otoriter, akibatnya, pola interaksi orang tua-anak atau guru-anak yang demikian kurang memungkinkan untuk meningkatkan penalaran moral anak secara baik.


Piaget percaya bahwa anak-anak kecil ditandai oleh moralitas heteronom, tetapi pada usia 10 tahun mereka beralih ke suatu tahap yang lebih tinggi yang disebut moralitas otonom. Menurut Piaget, anak-anak yang lebih tua yang memperhitungkan maksud-maksud individu, percaya bahwa aturan dapat berubah, dan sadar bahwa hukuman tidak selalu menyertai suatu perbuatan yang salah. Perspektif kognitif penting kedua dalam perkembangan moral dikemukakan oleh Lowrence Kohlberg.   

Selasa, 30 Juli 2013

Laporan dan Hasil Observasi

LAPORAN

Hasil Observasi di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera
Dosen Pengampu Psikologi Perkembangan II  : Ibu Emma Yuniarrahmah, MA dan Ismira Dewi, S.Psi, M.Psi, Psikolog



Di Susun Oleh :

Dhieny Agrina Khairani
I1C112223
Kelas A

Universitas Lambung Mangkurat
Fakultas Kedokteran
Program Studi Psikologi
2012/2013


BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Fenomena yang terjadi di kota besar saat ini, membuat sebagian masyarakat enggan untuk mengurus kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia. Akhirnya dengan gampang saja, mereka menitipkan kedua orang tuanya kepanti panti jompo disekitar. Alasan mereka sangat sederhana, akibat terlalu sibuk dipekerjaan sehingga tidak mempunyai waktu untuk mengasuh orang tuanya. Mereka menitipkan orang tuanya dengan maksud supaya mendapatkan perawatan yang lebih dari setiap perawat ataupun pengurus panti yang merawatnya. Tak heran di kota-kota besar  yang padat dengan segala bentuk aktivitasnya berdiri panti-panti yang khusus mengurusi  lansia.

1.2  Identitas dan Permasalahan Subjek
Panti Jompo identik dengan tempat penampungan bagi orang yang sudah tua. Yang menjadi pertanyaan : kategori orang tua bagaimana sebenarnya yang layak ditampung oleh Panti Jompo?
·         Yang memang sebatang kara dan tidak punya sanak saudara yang bisa merawatnya.
·         Yang masih memiliki sanak saudara bahkan yang masih memiliki anak dan cucu tapi tidak mau bisa merawatnya.
Kita semua pasti setuju kalo orang tua tersebut layak ditempatkan di Panti Jompo dimana ada petugas atau sukarelawan yang bisa menemani dan merawat mereka melalui hari-hari tua mereka yang. Ada alasan mengapa sanak saudaranya tidak bisa merawat mereka apalagi yang masih mempunyai anak atau cucu.
 Seperti salah satu penghuni panti jompo tresna werdha budi sejahtera yang saya wawancarai ini yang berinisial :
·         Nama               :           Sumiati
·         Tempat lahir    :           Kediri
·         Umur               :           ± 70 tahun
·         Jenis kelamin   :           Perempuan
·         Agama             :           islam
·         Alamat asal     :           Kediri
·         Lama dipanti   :           15tahun




            Beliau dititipkan oleh majikannya kepanti jompo ini dikarenakan majikannya merasa kasihan karena tak ada yang mengurusnya, menurut penuturan beliau kepada saya beliau tidak ingin berada dipanti namun karena tidak memiliki keluarga di Kalimantan Selatan, orang tua dan saudara beliau sudah meninggal. Sejak umur 10 tahun beliau dan keluarga merantau ke Kalimantan Selatan, tetapi beberapa tahun kemudian orang tua beliau kembali ke Kediri bersama saudara-saudara beliau. Seumur hidup beliau hanya dihabiskan untuk mengabdi sebagai pembantu rumah tangga.

1.3   Tujuan Observasi
Tujuan dari observasi ini adalah untuk mengetahui kondisi fisik dan psikologis para lansia dalam perkembangan masa dewasa lanjut yang ada di panti sosial tresna werdha Budi Sejahtera, khususnya Ibu Sumiati.

1.4   Manfaat Obseravsi
Manfaat yang ingin dicapai dari diadakannya observasi ini adalah menambah wawasan dalam memenuhi tugas Psikologi Perkembangan mengenai perkembangan masa dewasa lanjut, dapat mengetahui bagaimana cara yang lebih baik dalam menangani para lansia, baik dari segi fisik maupun psikologisnya.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Identifikasi  Masalah
Setelah hasil kunjungan ke Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera pada Selasa lalu (4 Juni 2013), panti jompo yang saya kunjungi memang dikelola oleh pemerintah dan kondisi pantinya juga bagus dan terawat. Beberapa orang tua yang terlihat sebenarnya  belum terlihat tua renta alias masih sehat, segar bugar dan bener-bener masih bisa menjaga diri sendiri. Bagi orang tua yang dititipkan oleh keluarganya disana diwajibkan membayar iuran.
Ibu Sumiati adalah salah satu penghuni panti sosial tresna werdha budi sejahtera. Ibu Sumiati ini sudah renta sekali, beliau sudah tidak bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang ada dipanti sosial ini karena tubuhnya sudah tidak kuat lagi, penglihatanya pun sudah kabur, dan pendengarannya sudah tidak jelas.
Ketika saya mewancarai ibu Sumiati ini, ada beberapa hal yang saya dapatkan walau beliau kadang berbicaranya kadang ngelantur dan cara berbicara beliau seperti meluapkan emosi.
Beberapa hal yang saya peroleh dari beliau :
  • Sejak ditinggal keluarga beliau bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
  • Beliau dititipkan oleh majikannya kepanti jompo ini dikarenakan majikannya merasa kasihan karena tak ada yang mengurusnya.
  • Beliau sebenarnya tidak ingin berada dipanti namun karena tidak memiliki keluarga di Kalimantan Selatan, orang tua dan saudara beliau sudah meninggal. Sejak umur 10 tahun beliau dan keluarga merantau ke Kalimantan Selatan, tetapi beberapa tahun kemudian orang tua beliau kembali ke Kediri bersama saudara-saudara beliau. Seumur hidup beliau hanya dihabiskan untuk mengabdi sebagai pembantu rumah tangga.
  • Beliau merasa senang disini karena masih ada orang-orang yang rela merawat dan memperhatikan beliau.
  • Beliau menjalin hubungan kekerabatan baik sesama penghuni panti. Ini terlihat ketika beliau kelihatan akrab saat mengobrol sambil bersenda gurau.


2.2  Kajian Teori , Analisis Keseluruhan Aspek Terkait Psikologi Perkembangan
2.2.1  Kajian Teori/Tinjauan Pustaka
Masa Dewasa Lanjut
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang kehidupan seseorang, yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan atau beranjak dari waktu ke waktu yang penuh dengan manfaat. Apabila seseorang sudah beranjak jauh dari periode hidupnya yang terdahulu, maka ia akan sering melihat masa lalunya, biasanya dengan penuh penyesalan, dan cenderung ingin hidup pada masa sekarang dan mencoba mengabaikan masa depan sedapat mungkin.
Setiap individu pada masa dewasa akhir/lanjut mengalami apa yang disebut dengan penuaan. Penuaan di sini didefinisikan sebagai transformasi organisme manusia setelah usia kematangan fisik, sehingga probabilitas kelangsungan hidup menurun dan itu disertai dengan teraturnya transformasi atau perubahan dalam  penampilan, perilaku, pengalaman, dan peran sosial.
Akibat perubahan fisik yang semakin menua, maka perubahan ini akan sangat berpengaruh terhadap peran dan hubungan dirinya dengan lingkungannya. Dengan semakin lanjut usia seseorang, secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya karena berbagai keterbatasan yang dimiliknya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial para lansia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitasnya, sehingga hal ini secara perlahan mengakibatkan terjadinya kehilangan dalam berbagai hal, seperti kehilangan peran di tengah masyarakat, hambatan kontak fisik, dan berkurangnya komitmen.
Tugas dan Karakteristik Perkembangan Pada Masa Usia Lanjut
Tugas perkembangan pada masa usia lanjut meliputi :
1.    Menyesuaikan diri dengan perubahan fisik dan kesehatan.
2.    Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya income (penghasilan) keluarga.
3.    Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup.
4.    Membentuk hubungan dengan orang-orang yang seusia.
5.    Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan.
6.    Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes.
Karakteristik perkembangan pada masa usia lanjut :
1.    Karakteristik perubahan fisik
a.    Terjadi perubahan sel primer.
b.    Terjadi perubahan sel di otak.
c.    Terjadi perubahan di otak.
d.   Terjadi perubahan di jaringan.
e.    Terjadi perubahan di panca indera.
f.     Terjadi perubahan seksual.
g.    Terjadi perubahan bentuk tubuh, seperti daerah kepala, tubuh, dan persendian.
2.    Karakteristik perubahan kognitif
a.    Terjadi perubahan belajar.
b.    Terjadi perubahan kreativitas.
c.    Terjadi perubahan ingatan.
d.   Terjadi perubahan mengenang.
e.    Terjadi perubahan pembendaharaan kata.
3.    Karakteristik perkembangan sosioemosional
a.    Merupakan periode kemunduran fisik dan mental.
b.    Perubahan peran.
c.    Penyesuaian yang buruk.
d.   Keinginan menjadi muda kembali sangat kuat.
e.    Perubahan minat

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Karakteristik
Faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan disebutkan dalam Teori Biologis yang dapat dibagi dalam :
1.    Teori genetik
2.    Teori non-genetik, seperti teori radikal bebas, teori cross-link, teori kekebalan, dan teori fisiologis.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kognitif pada masa usia lanjut :
1.    Kesehatan
2.    Status sosial
3.    Status ekonomi
4.    Tempat tinggal
5.    Seks
6.    Status pernikahan
7.    Nilai

Faktor-faktor yang mempengaruhi sosioemosional pada masa usia lanjut :
1.    Teori Pelepasan (disengagement theory)
Mengacu ke sebuah proses terelakkan, di mana banyak hubungan antara seseorang dan anggota masyarakat yang putus dan yang tersisa yang berubah dalam kualitas. Penarikan dapat diprakarsai oleh penuaan orang atau oleh masyarakat, dan dapat parsial atau total. Itu membuktikan bahwa orang tua kurang terlibat dengan kehidupan dibandingkan dengan mereka yang lebih muda.
2.    Teori Life-Course (life-course theory)
Maksudnya bagaimana agar pada masa dewasa akhir ini seorang individu mengalami penuaan yang berhasil dan tidak melewatkan satupun tugas perkembangannya.
3.    Teori Aktivitas (activity theory)
Teori ini menekankan pentingnya berkesinambungan dengan kegiatan sosial. Semakin aktif dan terlibat orang-orang dewasa lanjut, semakin kecil kemungkinan  mereka menjadi renta dan semakin besar kemungkinan mereka merasa puas dengan kehidupan mereka.
4.    Teori Kesinambungan (continuity theory)
Menyatakan bahwa orang lanjut usia mencoba untuk melestarikan dan menjaga struktur internal dan eksternal dengan cara menggunakan strategi yang menjaga kesinambungan. Itu berarti bahwa orang tua dapat mencoba menggunakan strategi yang familiar dalam bidang kehidupan. Kontinuitas terori memiliki potensi yang sangat baik untuk menjelaskan bagaimana orang menyesuaikan diri dengan penuaan mereka sendiri. Orang dewasa cenderung menggunakan kontinuitas sebagai strategi adaptif untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi selama penuaan yang normal.

2.2.2  Analisis Keseluruhan Aspek terkait Psikologi Perkembangan
            Ditinjau dari segi umur Ibu Sumiati, beliau berada pada tahap lanjut usia (elderly) yang berkisar antara 60 – 74 tahun (menurut WHO). Dimana lansia (lanjut usia) adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana di ketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki selanjutnya, yaitu usia lanjut, kemudian mati.
                   Tahap usia lanjut adalah tahap di mana terjadi penuaan dan penurunan, yang penururnanya lebih jelas dan lebih dapat diperhatikan dari pada tahap usia baya. Penuaan merupakan perubahan kumulatif pada makhluk hidup, termasuk tubuh, jaringan dan sel, yang mengalami penurunan kapasitas fungsional. Pada manusia , penuaan dihubungkan dengan perubahan degenerative pada kulit, tulang jantung, pembuluh darah, paru-paru, saraf dan jaringan tubuh lainya. Dengan kemampuan regeneratife yang terbatas, mereka lebih rentan terhadap berbagai penyakit, sindroma dan kesakitan dibandingkan dengan orang dewasa lain.

              Penurunan ini terutama penurunan yang terjadi pada kemampuan otak, dalam Al-Qur’an juga telah diterangkan dalam surat An-Nahl ayat 70 yaitu :
Artinya: “Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang    dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi   Maha Kuasa (QS. An –Nahl ayat 70)

            Selain di kategorikan umur, Ibu sumiati juga sudah memenuhi ciri-ciri perkembangan lanjut usia (menurut Hurlock), antara lain:
1.      Usia lanjut merupakan periode kemunduran
            Kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan faktor psikologis. Kemunduran dapat berdampak pada psikologis lansia. Motivasi memiliki peran yang penting dalam kemunduran pada lansia. Kemunduran pada lansia semakin cepat apabila memiliki motivasi yang rendah, sebaliknya jika memiliki motivasi yang kuat maka kemunduran itu akan lama terjadi.
2.      Orang lanjut usia memiliki status kelompok minoritas
            Lansia memiliki status kelompok minoritas karena sebagai akibat dari sikap sosial yang tidak menyenangkan terhadap orang lanjut usia dan diperkuat oleh pendapat-pendapat klise yang jelek terhadap lansia. Pendapat-pendapat klise itu seperti : lansia lebih senang mempertahankan pendapatnya daripada mendengarkan pendapat orang lain.
3.      Menua membutuhkan perubahan peran
            Perubahan peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami kemunduran dalam segala hal. Perubahan peran pada lansia sebaiknya dilakukan atas dasar keinginan sendiri bukan atas dasar tekanan dari lingkungan.
4.      Penyesuaian yang buruk pada lansia
            Perlakuan yang buruk terhadap orang lanjut usia membuat lansia cenderung mengembangkan konsep diri yang buruk. Lansia lebih memperlihatkan bentuk perilaku yang buruk. Karena perlakuan yang buruk itu membuat penyesuaian diri lansia menjadi buruk.

Penurunan Fisik Lansia
              Ditinjau dari fisik ibu Sumiati, beliau sudah mengalami kemunduran fisik antara lain beliau sudah tidak mampu lagi berjalan, berdiri lama, duduk lama di karenakan penyakit rheumatic beliau derita, kulit keriput,  penurunan penglihatan dan pendengaran dan lain sebagainya.
            Penuaan membuat sesorang mengalami perubahan postur tubuh. Kepadatan tulang dapat berkurang, tulang belakang dapat memadat sehingga membuat tulang punggung menjadi telihat pendaek atau melengkung. Perubahan ini dapat mengakibatkan kerapuhan tulang sehingga terjadi osteoporosis, dan masalah ini merupakan hal yang sering dihadapi oleh para lansia.
Penuaan yang terlihat pada kulit di seluruh tubuh lansia, kulit menjadi semakin menebal dan kendur atau semakin banyak keriput yang terjadi. Rambut yang menjadi putih juga merupakan salah satu cirri-ciri yang menandai proses penuaan. Kulit yang menua menjadi menebal, lebih terlihat pucat dan kurang bersinar. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam lapisan konektif ini dapat mengurangi kekuatan dan elasitas kulit, sehingga para lansia ini menjadi lebih rentan untuk terjadinya pendarahan di bawah kulit yang mengakibatkan kulit mejadi tampak biru dan memar. Pada penuaan kelenjar ini mengakibatkan kelenjar kulit mengasilkan minyak yang lebih sedikit sehingga menyebabkan kulit kehilangan kelembabanya dan mejadikan kulit kering dan gatal-gatal. Dengan berkurangnya lapisan lemak ini resiko yang dihadapi oleh lansia menjadi lebih rentan untuk mengalami cedera kulit.
Alat-alat indra perseptual juga mengalami penuaan sejalan dengan perjalanan usia. Alat-alat indra menjadi kuranng tajam, dan orang dapat mengalami kesulitan dalam membedakan sesuatu yang lebih detail, misalnya ketika seorang lansia di suruh untuk membaca koran maka orang ini akan mengalami kesulitan untuk membacanya, sehingga dibutuhkan alat bantu untuk membaca berupa kacamata. Perubahan alat sensorik memiliki dampak yang besar pada gaya hidup sesorang. Seseorang dapat mengalami masalah dengan komunikasi, aktivitas, atau bahkan interaksi sosial.
Pendengaran dan pengelihatan merupakan indra yang paling banyak mengalami perubahan, sejalan dengan proses penuaan indra pendengaran mulai memburuk. Gendang telinga menebal sehingga tulang dalam telinga dan stuktur yang lainya menjadi terpengaruh. Ketajaman pendengaran dapat berkurang karena terjadi perubhan saraf audiotorik. Kerusakan indara pendengaran ini juga dapat terjadi karena perubahan pada lilin telinga yang biasa terjadi seiring bertambahnya usia.
Struktur mata juga berubah karena penuaan. Mata memproduksi lebih sedikit air mata, sehingga dapat me,buat mata menjadi kering. Kornea menjadi kurang sensitive. Pada usia 60 tahun, pupil mata berkurang sepertiga dari ukuran ketika berusia 20 tahun. Pupil dapat bereaksi lebih lambat terhadap perubahan cahaya gelap ataupun terang. Lensa mata menjadi kuning, kurang fleksibel, dan apabila memandang menjadi kabur dan kurang jelas. Bantalan lemak pendukung berkurang, dan mata tenggelam ke kantung belakang. Otot mata menjadikan mata kurang dapat berputar secara sempurna, cairan di dalam mata juga dapat berubah. Masalah yang paling yang paling umum dialami oleh lansia adalah kesulitan untuk mengatur titik focus mata pada jarak tertentu sehingga pandangan menjdi kurang jelas.
Perubahan fisik pada lansia lebih banyak ditekankan pada alat indera dan sistem saraf mereka. Sistem pendengaran, penglihatan sangat nyata sekali perubahan penurunan keberfungsian alat indera tersebut. Sedangkan pada sistem sarafnya adalah mulai menurunnya pemberian respon dari stimulus yang diberikan oleh lingkungan. Pada lansia juga mengalami perubahan keberfungsian organ-organ dan alat reproduksi baik pria ataupun wanita. Dari perubahan-perubahan fisik yang nyata dapat dilihat membuat lansia merasa minder atau kurang percaya diri jika harus berinteraksi dengan lingkungannya (J.W.Santrock, 2002 :198).           Dari penjelasan di atas dapat di tarik kesimpulan berkenaan dengan cirri-ciri fisik lansia yaitu sebagi berikut (1) postur tubuh lansia mulai berubah bengkok (bungkuk),(2) kondisi kulit mulai kering dan keriput,(3) daya ingat mulai menurun,(4) kondisi mata yang mulai rabun,(5) pendengaran yang berkurang.
Menurut Hurlock (1980) terjadi perubahan fisik berupa penampilan pada usia dewasa akhir, diantanya adalah :
1.                  Daerah kepala
  • Hidung menjulur lemas
  • Bentuk mulut akan berubah karena hilangnya gigi
  • Mata kelihatan pudar
  • Dagu berlipat dua atau tiga
  • Kulit berkerut dan kering
  • Rambut menipis dan menjadi putih
2.                     Daerah Tubuh
·         Bahu membungkuk dan tampak mengecil
·         Perut membesar dan tampak membuncit
·         Pinggul tampak menggendor dan tampak lebih besar
·         Garis pinggang melebar
·         Payudara pada wanita akan mengendor
3.                Daerah persendian
·           Pangkal tangan menjadi kendor dan terasa berat
·           Kaki menjadi kendor dan pembuluh darah balik menonjol
·           Tangan menjadi kurus kering
·           Kaki membesar karena otot-otot mengendor
·           Kuku tangan dan kaki menebal, mengeras dan mengapur.

Pada umumnya perubahan pada masa lansia meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integument.





Penurunan kognitif pada lansia
              Ditinjau dari kognitif Ibu Sumiati, beliau mengalami penurunan dalam meproses informasi namun beliau masih mengingat kejadian-kejadian lampau yang pernah beliau alami.
Ada 3 komponen penting yang berpengaruh terhadap fungsi kognitif individu berusia lanjut, antara lain sebagai berikut :

1.   Pendidikan
Fasilitas pendidikan, semakin tahun memang semakin meningkat, sehingga generasi sekarang memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya. Pengalaman-pengalaman di dunia pendidikan, ternyata berkorelasi positif dengan hasil skor pad tes-tes inteligensi dan tugas-tugas pengolahan informasi (ingatan) (Verhaegen, Marcoen & Goossens, 1993). Dinegara-negara maju, beberapa lansia masih berusaha untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi. Alasan-alasan yang dikemukakan antara lain:
  • Ingin memahami sifat dasar penuaan yang dialaminya
  • Ingin mempelajari perubahan social dan teknologi yang dirasakan mempengaruhi kehidupannya.
  • Ingin menemukan pengetahuan yang relevan dan mempelajari ketrampilan-ketrampilan yang relevan untuk mengantisipasi permintaan-permintaan masyarakat dan tuntutan pekerjaan, agar tetap dapat berkarier secara optimal dan mampu bersaing dengan generasi sesudahnya.
  • Ingin mengisi waktu luang agar lebih bermanfaat, serta sebagai bekal untuk mengadakan penyesuaian diri dengan lebih baik pada masa pensiunnya.
Ibu Sumiati hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 3 sekolah dasar di Kediri. Pendidikan yang kurang dialami Ibu Suami menjadi salah satu faktor penurunan kognitif pada beliau.

2.  Pekerjaan
Searah dengan kemajuan teknologi biasanya orang-orang dewasa lanjut, sesuai dengan kompetensi yang dimiliki, cenderung bekerja dengan jenis pekerjaan yang belum mengarah ke orientasi kognitif, seperti generasi sesudahnya. Hal ini mengakibatkan banyak tenaga dewasa lanjut yang harus  tersingkir dari dunia kerja karena tidak mampu lagi bersaing dengan generasi yang berikutnya.
Ibu Sumiati yang sejak remaja hingga dewasa bekerja sebagai pembantu rumah tangga cenderung membuat kompetensi beliau tidak tergali. Sehingga pekerjaan beliau hanya sebatas pembantu rumah tangga saja.

3.   Kesehatan
Dari hasil penelitian kondisi kesehatan berkorelasi positif dengan kemampuan intelektual individu (Hultsch, Hammer & Small, 1993). Seperti satu hasil penelitian yang menemukan bahwa hipertensi ternyata berkorelasi dengan berkurangnya performance pada tes WAIS pada individu berusia di atas 60 tahun (Wilkie & Eisdorfer, 1971). Semakin tua, semakin banyak masalah kesehatan yang dihadapi (Siegler & Costa, 1985). Jadi beberapa penurunan kemampuan intelektual yang ditemukan pada orang-orang dewasa lanjut sangat mungkin disebabkan oleh factor-faktor yang terkait dengan kesehatan daripada factor usia semata.
Gaya hidup individu juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan fisiknya. Pada satu penelitian ditemukan bahwa ada hubungan antara aktivitas olahraga dengan  kecakapan kognitif pada Subjek  pria dan wanita berusia 55-91 tahun (Clarkson, Smith & Hartley, 1989). Orang-orang yang giat berolahraga memiliki kemampuan penalaran, ingatan dan waktu reaksi lebih baik daripada mereka yang kurang/tidak pernah berolah raga.
Seperti yang dialami Ibu Sumiati, kondisi kesehatan beliau mulai menurun, beliau tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa lagi. Untuk berjalan saja beliau susah, apalagi untuk melakukan kegiatan olahraga. Inilah salah satu penghambat kemampuan intelektual beliau.

Perkembangan Emosional
Ketika saya mewancarai ibu Sumiati ini, ada beberapa hal yang saya dapatkan walau beliau kadang berbicaranya kadang ngelantur dan cara berbicara beliau seperti meluapkan emosi.
Memasuki masa tua, sebagian besar lanjut usia kurang siap menghadapi dan menyikapi masa tua tersebut, sehingga menyebabkan para lanjut usia kurang dapat menyesuaikan diri dan memecahkan masalah yang dihadapi (Widyastuti, 2000). Munculnya rasa tersisih, tidak dibutuhkan lagi, ketidakikhlasan menerima kenyataan baru seperti penyakit yang tidak kunjung sembuh, kematian pasangan, merupakan sebagian kecil dari keseluruhan perasaan yang tidak enak yang harus dihadapi lanjut usia.
Sejalan dengan bertambahnya usia, terjadinya gangguan fungsional, keadaan depresi dan ketakutan akan mengakibatkan lanjut usia semakin sulit melakukan penyelesaian suatu masalah. Sehingga lanjut usia yang masa lalunya sulit dalam menyesuaikan diri cenderung menjadi semakin sulit penyesuaian diri pada masa-masa selanjutnya.
Yang dimaksud dengan penyesuaian diri pada lanjut usia adalah kemampuan orang yang berusia lanjut untuk menghadapi tekanan akibat perubahan perubahan fisik, maupun sosial psikologis yang dialaminya dan kemampuan untuk mencapai keselarasan antara tuntutan dari dalam diri dengan tuntutan dari lingkungan, yang disertai dengan kemampuan mengembangkan mekanisme psikologis yang tepat sehingga dapat memenuhi kebutuhan– kebutuhan dirinya tanpa menimbulkan masalah baru.



Perubahan Kemampuan Mental pada Usia Lanjut
Pada masa lalu diduga bahwa kerusakan mental yang tidak dapat dihindari juga diikuti oleh kerusakan fisik. Menurunnya kondisi fisik yang menunjang kerusakan mental telah ditunjukan dengan fakta bahwa perlakuan terhadap hormon seks pada wanita berusia lanjut dapat meningkatkan kemampuan berfikir, mempelajari bahan baru, menghafal, mengingat, dan meningkatkan kemauan untuk mengeluarkan energi intelektual. Pada pihak lain beberapa kondisi pathologis seperti tekanan darah tinggi, mengarah pada hilangnya kemampuan intelektual pada usia lanjut meskipun menurut Wilkie dan Eisdorfer bahwa gangguan-gangguan semacam itu bukan merupakan bagian dari proses ketuaan yang normal (Hurlock, 1980).
Namun, tidak ada usia tertentu yang dianggap sebagai awal mula terjadinya penurunan mental dan tidak ada pola khusus dalam penurunan mental yang berlaku untuk semua orang.
Ditinjau dari kondisi Ibu Sumiati, penurunan kemampuan mental pada beliau tidak terlalu signifikan. Ini dikarenakan beliau masih mampu mengingat hal-hal yang terjadi pada masa lalu dan masih bisa melakukan kegiatan yang ada di panti sseperti membuat kerajinan tangan.

Lingkungan Sosial Orang Dewasa Lanjut
Menurut Santrock (2002) Tiga teori yang menonjol, yaitu :

a.Teori pemisahan (disangagement theory)
Teori pemisahan menyatakan bahwa orang-orang dewasa lanjut secara perlahan-lahan menarik diri dari masyarakat (Cumming & Henry (2002), dalam Santrock).
Penurunan interaksi sosial dan peningkatan kesibukan terhadap diri sendiri dianggap mampu meningkatkan kepuasan diantara orang-orang dewasa lanjut, rendahnya semangat juang akan mengiringi aktivitas yang tinggi dan pemisahan tidak dapat dihindari bahkan dicari-cari oleh orang usia lanjut. Serangkaian penelitian gagal mendukung penelitian ini (Maddox, 1968; Neugarten, Havighurst & Tobin, 1968; Reichard, Levson & Peterson, 1962). Ketika individu terus hidup secara aktif, energik, dan produktif sebagai orang dewasa lanjut, kepuasan hidup mereaka tidak menurun; sering kali tetap meningkat.
Ditinjau dari lingkungan sosial ibu Sumiati tidak terlihat ada pemisahan antar mereka. Namun, jika ditinjau dari keseluruhan sangat jelas terlihat pemisahan itu, karena mereka kelompok minoritas lanjut usia yang dipisahkan dari lingkungan masyarakat.

b.Teori aktivitas (activity theory)
Teori aktivitas menyatakan semakin orang-orang dewasa lanjut aktif dan terlibat, semakin kecil mereka mersa renta dan semakin besar kemungkinan mereka merasa puas dengan kehidupannya. Teori ini menyatakan bahwa individu-individu seharusnya melanjutkan peran-peran masa dewasa tengahnya disepanjang masa dewasa akhir; jika peran-peran itu diambil dari mereka (PHK), penting bagi mereka untuk menemukan peran-peran pengganti yang memelihara keaktifan dan keterlibatan mereka di dalam aktivitas-aktivitas kemasyarakatan.
Ditinjau dari aktivitas yang ada di lingkungan ibu Sumiati, aktivitas mereka sangatlah dibatasi. Mereka hanya boleh melakukan aktivitas di lingkungan wisma mereka masing-masing. Padahal itu hanya akan membuat mereka tidak puas dengan kehidupan karena mereka tidak bisa langsung beraktivitas dengan masyarakat. Tetapi, dengan adanya kegiatan setiap minggu, yang dilakukan oleh beberapa orang untuk memberikan keterampilan kepada para lansia. Itu akan mengganti keterlibatan mereka dalam masyarakat.

c. Teori rekonstruksi gangguan sosial (social breakdwown-reconstruction theory)
Teori ini menyatakan bahwa penuaan dinyatakan melalui fungsi psikologis negatif yang dibawa oleh pandangan-pandang negatif tentang dunia sosial dari orang-orang dewasa lanjut yang tidak memadainya penyediaan layanan untuk mereka. Rekonstruksi sosial dapat terjadi dengan merubah pandangan dunia sosial dari orang-orang dewasa lanjut dan menyediakan sistem-sistem yang mendukung mereka. Gangguan sosial dimulai dengan pandangan dunia sosial yang negatif dan diakhiri dengan identifikasi serta pemberian label seseorang sebagai individu yang tidak mampu. Masyarakat melihat orang tua sebagai tidak mampu dan kuno.
Social Breakdown
• Struktur masyarakat yang tidak memberikan kesempatan pada lansia untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.
• Masyarakat mengembangkan stereotip negative para lansia
            Menurut saya Social Breakdown ini sering terjadi pada para lansia yang berada langsung dalam ruang lingkup masyarakat. Seperti  yang pernah dialami Ibu Sumiati, sebelum beliau berada dipanti. Beliau bekerja sebagai ibu rumah tangga. Itu berarti Ibu Sumiati tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi. Jika masyarakat tidak mengembangkan streotip negatif kepadapara lansia. Maka mereka pun masih bisa melibatkan diri dalam kegiatan yang ada dalam masyarakat baik langsung maupun tidakk langsung.
Social Recontruction
• Struktur masyarakat yang memberi kesempatan pada lansia untuk mengembangkan potensi yang dimiliki
• Masyarakat memberi kesempatan pada lansia sebagai bagian yang aktif dan partisipatif dalam masyarakat.
            Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada lansia dalam lingkungan masyarakat, mereka berada dalam panti sosial tresna werdha ini mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Seperti ibu Sumiati yang mendapatkan kegiatan pelatihan keterampilan tangan seperti menyulam, membuat bross, dan keterampilan lainnya. Secara tidak langsung mereka yang berada di panti sudah bisa turut aktif dalam masyarakat.





BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan          
            Dari uraian-uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Ibu Sumiati dititipkan oleh majikannya kepanti jompo ini dikarenakan majikannya merasa kasihan karena tak ada yang mengurusnya, menurut penuturan beliau kepada saya beliau tidak ingin berada dipanti namun karena tidak memiliki keluarga di Kalimantan Selatan, orang tua dan saudara beliau sudah meninggal. Selain itu beberapa anak menitipkan orang tuanya kepanti sosial dikarenakan sibuk bekerja, sehingga si anak lebih memilih minitipkan orang tuanya ke panti werdha agar ada yang mengurusnya.
Panti Werdha menjadi pilihan yang baik untuk menikmati hari tua. Pandangan masyarakat tentang Panti Werdha dan orang tua yang dititipkan di sana agaknya perlu diluruskan. Orang tua yang dititipkan di Panti Werdha tidak berarti mereka terbuang, mereka tetap memiliki keluarga yang merupakan bagian penting dari keberadaannya.
Di panti werdha mereka menemukan teman yang relatif seusia dengannya di mana mereka dapat berbagi cerita karena keberadaan lansia yang ada di panti ini memiliki karakter dan problema yang berbeda-beda, maka perlu penanganan khusus.
Di tempat ini mereka diberikan hal-hal yang positif seperti program-program pelayanan sosial yang bisa memberikan kesibukan untuk mereka sebagai pengisian waktu luang, diantaranya pemberian bimbingan sosial, bimbingan mental spiritual (seperti pembacaan yasin, maulid, ceramah, dan lain-lain), penyaluran bakat dan hobi, senam, dan banyak kegiatan lainnya. Selain itu, mereka juga mendapatkan pelayanan dari para pekerja sosial untuk bisa menjalani hari-harinya dengan ceria.

3.2 Kritik dan Saran
Sebenarnya, yang dibutuhkan para lansia disana mungkin bukan sumbangan kebutuhan pokok walaupun tidak diragukan hal tersebut memang diperlukan, tapi mungkin kebutuhan bagi rohani mereka ada seseorang yang bisa mendengarkan mereka berbicara maupun saling berbagi. Memang ada petugas tapi mereka juga tidak mungkin memberikan perhatian kepada tiap-tiap orang tua.
Semoga kita dapat menyadari betapa besar jasa orang tua kita dan tolong jangan sampai pernah berpikir untuk mengirim orang tua yang telah bersusah payah membesarkan kita ke Panti Jompo.  mari kita lebih menghargai orang tua kita, ungkapkan terima kasih kita, kalo gak ada mereka kita gak mungkin bisa jadi kita yang seperti ini.


Daftar Pustaka 
  •     Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan). Jakarta : Erlangga.
  •          Santrock, John W. 2002. Life Span Development (Perkembangan Masa Hidup Edisi 5 Jilid 2). Jakarta : Erlangga.