Tampilkan postingan dengan label Psikologi Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Sosial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Oktober 2013

Psikologi Massa

PENGERTIAN
Manusia di samping sebagai mahluk pribadi juga sebagai mahluk sosial yang pada suatu waktu juga berhubungan dengan manusia lain, terkadang juga tergabung dalam suatu kelompok baik kelompok kumpulan orang-orang yang cukup besar maupun dalam suatu massa.
Massa (mass) atau crowd adalah suatu bentuk kumpulan (collection) individu-individu, dalam kumpulan tersebut tidak terdapat interaksi dan dalam kumpulan tersebut tidak terdapat adanya struktur dan pada umumnya massa berjumlah orang banyak dan berlangsung lama.

1)   Massa menurut Gustave Le Bon (yang dapat dipandang sebagai pelopor dari psikologi massa) bahwa massa itu merupakan suatu kumpulan orang banyak, berjumlah ratusan atau ribuan, yang berkumpul dan mengadakan hubungan untuk sementara waktu, karena minat dan kepentingan yang sementara pula. Misal orang yang melihat pertandingan sepak bola, orang melihat bioskol\p dan lain sebagainya.
2)    Massa menurut Mennicke (1948) mempunyai pendapat dan pandangan yang lain shingga ia membedakan antara massa abstrak dan massa konkrit.
1.    Massa Abstrak adalah sekumpulan orang yg belum terikat satu kesatuan, norma, motif dan tujuan tertentu. Terbentuk karena : ada kejadian yg menarik, ancaman terhadap individu dan adanya kebutuhan yg tidak terpenuhi.

2.    Massa Konkrit adalah massayang mempunyai ciri-ciri
a.         Adanya ikatan batin, ini dikarenakan adanya persamaan kehendak, persamaan tujuan, persamaan ide, dan sebagainya.
b.          Adanya persamaan norma, ini dikarenakan mereka memiliki peraturan sendiri, kebiasaan sendiri dan sebagainya.
c.         Mempunyai struktur yang jelas, di dalamnya telah ada pimpinan tertentu. Antara massa absrak dan massa konkrit kadang-kadang memiliki hubungan dalam arti bahwa massa abstrak dapat berkembang  atau berubah menjadi konkrit, dan sebaliknya massa konkrit bisa berubah ke massa abstrak. Tetapi ada kalangan massa abstrak bubar tanpa adanya bekas.  Apa yang dikemukakan oleh Gustave Le Bon dengan massa dapat disamakan dengan massa abstrak yang dikemukakan oleh Mennicke, massa seperti ini sifatnya temporer, dalam arti bahwa massa itu dalam waktu yang singkat akan bubar.

3.    Massa menurut Park dan Burgess (Lih. Lindzey, 1959) membedakan antara massa aktif dan massa pasif.
a.         Massa aktif (mob) yaitu massa yang terbentuk karena telah terbentuknya tindakan nyata seperti demonstrasi dan perkelahian missal.
b.      Massa Pasif (audience) yaitu kumpulan orang yg belum melakukan tindakan nyata, misal : orang-orang berkumpul mendengarkan ceramah, mengikuti seminar dan nonton pertandingan basket

Sifat-Sifat Massa
Menurut Gustave le Ban, massa itu mempunyai sifat-sifat psikologi tersendiri. Orang yang bergabung dalam suatu massa akan berbuat sesuatu, yang perbuatan tersebut tidak akan dilakukan bila individu itu trkadang dalam suatu massa. Sehingga massa itu akan mempunyai daya melarutkan individu dalam suatu massa, malarutkan individu dalam jiwa massa. Seperti dikemukakan oleh Durkheim bahwa adanya individual mind dan collective mind, yang berbeda satu dengan yang lain. Menurut Gustave Le Bon dalam massa itu terdapat apa yang dinamakan hukum mental unity atau low of mental unity (yaitu bahwa dalam massa adanya kesatuan mind, kesatuan jiwa, seperti yang dikemukakan olehnya, sebagai berikut:


Whoever be the individuals that compose it, however like ot unlike be their mode of life, thei occupations, their character, or their intellegiences, the fact that they have been transformed into a crowd puts them in possession of collective mind.
Sedangkan menurut Allport  sekalipun kurang dapat menyetujui tntang collective mind, tetapi dapat mamahami tentang pemikiran adanya kesamaan (conformity), tidak hanya dalam hal berfikir dan kepercayaan, tetapi juga dalam hal kepercayaan (feeling) dan dalam perbuatan yang menampak (overt behaviour). Sedangkan Mc. Dougall menekankan pada adanya homogenity dalam panic (escape mob) seperti yang dikemukakannya:
“there is one kind of objecct in the presence of which no man t\remains indifferent and shich evokes in almost all men the same emotion, namely, inpending danger, hence the sudden appearance of imminent danger the characteristic and terrible phenomena of a panic.
Di sampingmsifat-sifat yang telah disebukan di atas massa itu masih mempunyai sifat-sifat antara lain, yaitu:
a.         Impulsif, ini beratti massa itu akan mudah memberikan respons terhadap rangsang atau stimulus yang diterimanya. Karena sifat impulsifnya ini, maka massa itu ingin bertindak cepat sebagai reaksi terhadap stimulus yang diterimanya.
b.         Mudah sekali tersinggung. Karena massa itu mudah sekali tersinggung, maka untuk membangkitkan daya gerak massa diperlukan stimuli yang dapat menyinggung perassan massa yang bersangkutan.
c.          Sugestibel, ini berarti bahwa massa itu dapat mudah menerima sugesti dati luar.
d.         Tidak rasional, karena massa itu sugestibel, maka massa itu dalam berindak tidak rasional, dan mudah dibawa oleh sentimen-sentimen.
e.          Adanya social facilitation (F. Allport) yaitu adanya suatu penguatan aktivitas, yang disebabkan karena adanya aktivitas individu lain. Perbuatan individu lain dapat merangsang/ menguatkan perbuatan individu lain yang trgabung dalam massa itu. Menurut Tarde disebut imitation, sedangkan menurut Sighele disebut sugestion, dan menurut Gustave Le Bon sebagai Contagion and suggestion, dan dalam suasana ini terdapat suasana hipnotik (Lih. Lindzey, 1959)

Latar Belakang Psikologis Timbulnya Massa
Banyak teori yang mengupas tentang struktur pribadi manusia, salah satu pendapat yang dikemukakan oleh Freud menyatakan bahwa struktur pribadi manusia itu terdiri dari tiga bagian yaitu:
1.    Das Es atau The Id yaitu berupa dorongan-dorongan, nafsu-nafsu yang pada dasarnya itu semua membutuhkan pemenuhan, ingin muncul, ingin keluar.
2.    Das Ich atau The Ego, yaitu merupakan sinsor untuk menyesuaikan dengan keadaan sekitarnya, teruatama dengan norma-norma yang ada, di sini berfungsinya pikiran.
3.    Das Uber Ich atau The Super Ego, merupakan kata hati yang berhubungan dengan moral baik buruk.
Bila das es mau keluar, tetapi tidak diperbolehkan oleh das ich karena tidak sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat, maka dorongan-dorongan/ das es kemudian ditekan masuk dalam kompleks tersedak, masuk dalam bawah sadar. Apa yang masuk dalam kompleks tidak mai, tidak hilang, tetapi dalam keadaan laten kompleks terdesak ke permukaan. Ke alam sadar pemunculan tersebut terjadi bila sensor yaitu das ich dalam keadaan tidak aktif atau kurang baik berfungsinya.
Dalam kehidupan bermasyarakat adanya norma-norma atau aturan-aturan tertentu, yang merupakan pedoman-pedoman atau batasan-batasan yang membatasi gerak atau perilaku anggota masyarakat. Maka dengan adanya norma-norma tersebut, sebagai anggota masyarakat baik tidak dapat berbuat seenaknya. Jadi ini berarti bahwa norma-norma itu berfungsi menghalangi dorongan-dorongan yang ingin mendapat pemuasan, karena the ego yang berfungsi menyesuaikan dengan keadaan lingkungan, yaitu menyesuaikan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.
Aras dasar uaraian tersebut di atas, dapat dikemukakan salah satu analisis mengenai perbuatan massa adalah berdasarkan atas faktor psikologis yang mendasarinya. Yaitu orang bertindak dalam massa adalah berdasarkan atas dorongan-dorongan atau keinginan-keinginan dan sebagainya yang muncul dari bawah sadar yang semula ditekannya. Karena itu, bila banyak hal yang ditekan merupakan suatu pertanda yang kurang baik, sebab pada suatu waktu dapat muncul di permukaan bila keadaan memungkinkan.
Berkaitan dengan hal tersebut, dapat diambil langkah-langkah untuk pencegahannya yaitu sebagai berikut:
1)      Menghindari hal-hal yang sekiranya dapat menimbulkan kekecewaan/ frustasi karena hal tersebut dapat menyebabkan sumber terjadinya  massa aktif.
2)      Menampung pendapat-pendapat yang ada permasalahan agar dapat segera diatasi.
3)      Sebagai pemimpin yang baik harus dapat memberikan contoh kepada yang dipimpinnya, sebab pemimpin adalah sebagai tempat identifikasi dari yang dipimpinnya.
4)      Sebagai seorang pemimpin sebaiknya bila memberikan janji-janji maka haruslah ditepati, jika tidak dapat menepati janji maka jangan memberikan janji agar tidak menimbulkan frustasi.
Tetapi apabila telah terjadi gerakan massa (massa aktif) maka pimpinan yang dikehendaki adalah pimpinan yang tegas, tidak ragu-ragu dan berani bertindak. Pimpinan yang ragu-ragu akan membuat massa menjadi kacau dan kehilangan arah, karena itu ada pendapat yang menyatakan bahwa barang siapa yang berani muncul di tengah-tengah massa, maka dialah yang akan memegang massa itu.

PERILAKU KOLEKTIF
Perilaku kolektif yang berupa gerakan sosial, seringkali muncul ketika dalam interaksi sosial itu terjadi situasi yang tidak terstruktur, ambigious (ketaksaan/ membingungkan), dan tidak stabil.
Reicher & Potter (1985) mengidentifikasi adanya lima tipe kesalahan mendasar dalam psikologi tentang kerumunan (perilaku massa) di masa lalu dan masa kini. Kesalahan-kesalahan itu, meliputi yaitu:
1)      abstraksi tentang episode kerumunan bersumber dari konflik antar-kelompok,
2)      kegagalan untuk menjelaskan proses dinamikanya,
3)      terlalu dibesar-besarkannya anonimitas keanggotaannya,
4)      kegagalan memahami motif anggota kerumunan, dan
5)      selalu menekankan pada aspek negatif dari kerumunan.

Reicher (1987), Reicher & Potter (1985) selama ini melihat adanya dua (2) bentuk bias dalam memandang teori kerumunan (crowds) yaitu bias politik dan bias perspektif. Bias politik terjadi karena teori kerumunan disusun sebagai usaha mempertahankan tatanan sosial dari mob dan tindakan kerumunan selalu dipandang sebagai konflik sosial. Sementara itu bias perspektif terjadi karena para ahli hanya berperan sebagai orang luar (outsider) yang hanya mengamati masalah tersebut. Akibatnya, terjadi kesalahan dalam memandang tindakan kerumunan secara objektif.

KONDISI-KONDISI PEMBENTUK PERILAKU MASSA
Neil Smelser mengidentifikasi beberapa kondisi yang memungkinkan munculnya perilaku kolektif , diantaranya:
1.      Structural conduciveness: beberapa struktur sosial yang memungkinkan munculnya perilaku kolektif, seperti: pasar, tempat umum, tempat peribadatan, mall, dst.
2.      Structural Strain: yaitu munculnya ketegangan dlam masyarakat yang muncul secara tersturktur. Misalnya: antar pendukng kontestan pilkada.
3.      Generalized beliefs : share interpretation of event (kepercayaan yg sama terhadap sebuah acara), misalnya perkumpulan ceramah agama.
4.      Precipitating factors: ada kejadian pemicu (triggering incidence). Misal ada pencurian, ada kecelakaan.
5.      Mobilization for actions: adanya mobilisasi massa. Misalmya : aksi buruh, rapat umum suatu ormas, dst.
6.       Failure of Social Control – akibat agen yang ditugaskan melakukan kontrol sosial tidak berjalan dengan baik.

MACAM-MACAM BENTUK PERILAKU KOLEKTIF
A. CROWD (KERUMUNAN)
Secara deskriptif Milgram (1977) melihat kerumunan (crowd) sebagai
1.             Sekelompok orang yang membentuk agregasi (kumpulan),
2.             Jumlahnya semakin lama semakin meningkat,
3.             Orang-orang ini mulai membuat suatu bentuk baru (seperti lingkaran),
4.             Memiliki distribusi diri yang bergabung pada suatu saat dan tempat tertentu dengan lingkaran (boundary) yang semakin jelas, dan
5.             Titik pusatnya permeable dan saling mendekat.

Ada beberapa bentuk kerumunan (Crowd) yang ada dalam masyarakat:
1.      Temporary Crowd : orang yang berada pada situasi saling berdekatan di suatu tempat dan pada situasi sesaat.
2.      Casual Crowd : sekelompok orang yang berada di ujung jalan dan tidak memiliki maksud apa-apa.
3.      Conventional Crowd : audience yang sedang mendengarkan ceramah.
4.      Expressive Crowd: sekumpulan orang yang sedang nonton konser musik yang menari sambil sesekali ikut melantunkan lagu.
5.       Acting Crowd atau rioting crowd : sekelompok massa yang melakukan tindakan kekerasan.
6.      Solidaristic Crowd: kesatuan massa yang munculnya karena didasari oleh kesamaan  ideologi 




B.  MOB :
Adalah kerumunanan (Crowds) yang emosional yang cenderung melakukan kekerasan/penyimpangan (violence) dan tindakan destruktif. Umumnya mereka melakukan tindakan melawan tatanan sosial yang ada secara langsung. Hal ini muncul karena adanya rasa ketidakpuasan, ketidakadilan,  frustrasi,  adanya perasaan dicederai oleh institusi yang telah mapan atau lebih tinggi. Bila mob ini dalam skala besar, maka bentuknya menjadi kerusuhan massa. Mereka melakukan pengrusakan fasilitas umum dan apapun yang dipandang menjadi sasaran kemarahanannya.  

C. PANIC
Adalah bentuk perilaku kolektif yang tindakannya merupakan reaksi terhadap ancaman yang muncul di dalam kelompok tersebut. Biasanya berhubungan dengan kejadian-kejadian bencana (disaster). Tindakan reaksi massa ini cenderung terjadi pada awal suatu kejadian, dan hal ini tidak terjadi ketika mereka mulai tenang. Bentuk lebih parah dari kejadian panik ini adalah Histeria Massa. Pada histeria massa ini terjadi kecemasan yang berlebihan dalam masyarakat. misalnya munculnya isue tsunami, banjir.   

D. RUMORS
Adalah suatu informasi yang tidak dapat dibuktikan, dan dikomunikasikan yang muncul dari satu orang kepada orang lain (isu sosial). Umumnya terjadi pada situasi dimana orang seringkali kekurangan informasi untuk membuat interpretasi yang lebih komprehensif. Media yang digunakan umumnya adalah telepon. 

E. OPINI PUBLIC
Adalah sekelompok orang yang memiliki pendapat beda mengenai sesuatu hal dalam masyarakat. Dalam opini publik ini antara kelompok masyarakat terjadi perbedaan pandangan / perspektif. Konflik bisa sangat potensial terjadi pada masyarakat yang kurang memahami akan masalah yang menjadi interes dalam masayarakat tersebut. Contoh adalah adanya perbedaan pendangan antar masyarakat tentang hukuman mati, pemilu, penetapan undang-undang tertentu, dan sebagainya.  Bentuknya biasanya berupa informasi yang beda, namun dalam kenyataannya bisa menjadi stimulator konflik dalam masyarakat.  

F. PROPAGANDA
Adalah informasi atau pandangan yang sengaja digunakan untuk menyampaikan atau membentuk opini publik. Biasanya diberikan oleh sekelompok orang, organisasi, atau masyarakat yang ingin tercapai tujuannya. Media komunikasi banyak digunakan untuk melalukan propaganda ini. Kadangkala juga berupa pertemuan kelompok (crowds).Penampilan dari public figure kadang kala menjadi senjata yang ampuh untuk melakukan proraganda ini.  


 Kesimpulan
Psikologi adalah ilmu tentang perilaku dan proses mental.  Massa dapat diartikan sebagai bentuk kolektivisme (kebersamaan). Oleh karena itu psikologi massa akan berhubungan perilaku yang dilakukan secara bersama-sama oleh sekelompok massa. Fenomena kebersamaan ini diistilahkan pula sebagai Perilaku Kolektif (Collective Behavior).

Dalam perilaku kolektif, seseorang atau sekelompok orang ingin melakukan perubahan sosial dalam kelompoknya, institusinya, masyarakatnya. Tindakan kelompok ini ada yang diorganisir, dan ada juga tindakan yang tidak diorganisir. Tindakan yang terorganisir inilah yang kemudian banyak dikenal orang sebagai gerakan social (Social Movement).

Senin, 29 Juli 2013

Pengaruh Sosial dan Kontrol Diri

A.   Konformitas (Pengaruh Sosial)

Definisi
Konformitas adalah suatu jenis pengaruh sosial di mana individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada.
           
Faktor yang Mempengaruhi
            Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi konformitas. Faktor-faktor tersebut adalah:
  1. Pengaruh dari orang-orang yang disukai. Orang-orang yang disukai akan memberikan pengaruh lebih besar. Perkataan dan perilaku mereka cenderung akan diikuti atau diamini oleh orang lain yang menyukai dan dekat dengan mereka.
  2. Kekompakan kelompok. Kekompakan kelompok sering disebut sebagai kohesivitas. Semakin kohesif suatu kelompok maka akan semakin kuat pengaruhnya dalam membentuk pola pikir anggota kelompoknya.
  3. Ukuran kelompok dan tekanan sosial. Konformitas akan meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah anggota kelompok. Semakin besar kelompok tersebut maka akan semakin besar pula kecenderungan kita untuk ikut serta, walaupun mungkin kita akan menerapkan sesuatu yang berbeda dari yang sebenarnya kita inginkan. 
  4. Norma sosial deskriptif dan norma sosial injungtif. Norma deskriptif adalah norma yang hanya mendeskripsikan apa yang sebagian besar orang lakukan pada situasi tertentu. Norma ini akan mempengaruhi tingkah laku kita dengan cara memberitahu kita mengenai apa yang umumnya dianggap efektif atau bersifat adaptif dari situasi tertentu tersebut. Sementara itu, norma injungtif akan mempengaruhi kita.



Penelitian Mengenai Konformitas

            Beberapa penelitian mengenai konformitas dalam kasus-kasus tertentu antara lain:
  1. Konformitas berkaitan dengan perilaku agresivitas kelompok seperti tawuran di mana norma sosial khas kelompok yang menganggap tawuran sebagai sesuatu yang normatif dan dianggap sebagai kebenaran kelompok (Simangunsong, 2004).
  2. Konformitas memiliki ketertarikan dengan beberapa perilaku ekonomi, khususnya dalam perilaku konsumen seperti perilaku konsumtif pada produk kosmetik pada remaja putri (Zulfitriah, 2007).
  3. Konformitas juga berkaitan dengan perilaku seks pra-nikah di mana remaja akan melakukan perilaku seks pra-nikah karena prinsip sexual achievement dalam kelompok teman sebayanya (Rahardjo, 2000).
  4. Konformitas juga memiliki kaitan dengan perilaku negatif lainnya seperti perilaku minum-minuman beralkohol karena pengaruh lingkungan sekitarnya (Sumarlin, 2009).
  5. Di dalam psikologi pendidikan, konformitas kelompok teman sebaya berkaitan dengan motivasi berprestasi pada remaja akhir (Sari, 2009).


B.   Norma Sosial

Norma adalah hal yang secara riil ada dan berlaku dalam kehidupan manusia. Kita hidup dengan dikelilingi oleh norma-norma. Di mana pun kita berada dan tinggal, akan berhadapan dengan norma.

Norma-norma itu ada bermacam-macam, mulai dari jenis yang sederhana hingga jenis yang lebih tinggi, yang lebih mengikat dan menentukan bagi baik buruknya manusia.
 

Adapun macam-macam norma sosial adalah:
  1. Norma Keluarga. Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Fungsi keluarga antara lain: fungsi reproduksi, sosialisasi, afeksi, ekonomi, perlindungan, pemberian status, dan pengawasan sosial.
  2. Norma Agama. Agama memberi pedoman kepada manusia untuk menjalankan aktivitasnya agar selamat dunia dan akhirat.
  3. Norma Ekonomi. Norma ekonomi lahir sejak manusia melakukan barter barang secara rutin, membagi-bagi tugas, dan mengakui adanya tuntutan terhadap orang lain.
  4. Norma Pendidikan. Pendidikan pada hakikatnya adalah salah satu wadah sosialisasi nilai-nilai yang ideal dalam masyarakat.
  5. Norma Politik. Menyangkut proses menentukan dan melaksanakan satu tujuan negara.


C.   Kontrol Pribadi

Kontrol pribadi yakni kemampuan setiap pribadi untuk mengendalikan pola perilakunya dalam batas-batas etis,  dalam Islam memperoleh tekanan kuat. Kontrol pribadi yang kuat jauh lebih efektif, fungsional dan tahan lama dalam memperbaiki pola perilaku, baik perilaku individu maupun selanjutnya perilaku masyarakat.

Sikap kontrol pribadi misalnya adalah kesabaran. Kualitas kesabaran merupakan fondasi bagi perkembangan pribadi. Kesabaran dan daya tahan jiwa lahir dari sikap penghargaan terhadap diri sendiri yang menopang kontrol atas stabilitas emosi. Dari sini muncul rasa ikhlas / tulus dalam melewati badai rintangan yang menerpa. Selanjtnya, sinergi kesabaran, daya tahan, dam keikhlasan melahirkan pemahaman untuk mengatasi berbagai peristiwa. Pemahaman inilah yang menguatkan diri untuk menentukan sikap dalam berbagai keadaan serta membantunya menganali dan memahami corak perilaku orang lain dalam menghadapi setiap kondisi yang berbeda.


Kesimpulan
            Setiap orang tidak akan terlepas dari interaksi dengan orang lain. Dalam interkasi tersebut ada proses mempengaruhi. Untuk mempengaruhi orang lain, maka ada faktor-faktor tertentu, di antaranya adalah:
  1. Pengaruh dari orang-orang yang disukai.
  2. Kekompakan kelompok.
  3. Ukuran kelompok dan tekanan sosial.
  4. Norma sosial deskriptif dan norma sosial injungtif.

            Dari keempaat faktor di atas, timbulnya konformitas itu pada hakikatnya memang diawali dengan interaksi sosial terlebih dahulu. Tidak akan muncul konformitas sosial jika tidak ada proses interaksi. Adapun kelemahan dari keempat faktor ini yakni difiltrasi dengan kontrol pribadi, sehingga sekuat apapun doktrin tapi jika kontrol pribadinya kuat maka tidak akan terpengaruhi oleh orang lain.


Sumber
  • Baron, R. A., dan Byrne, D. 2005. Psikologi Sosial, jilid dua (edisi kesepuluh). Jakarta: Erlangga.
  • Brown, C. 2006. Social Psychology. London: Sage Publication, Ltd.
  • Hogg, M. A., dan Abrams, D. 1998. Social Identifications: A Social Psychology Of Intergroup Relations And Group Processes. New York: Routledge.
  • Antonius Atoshoki Gea, S.Th., M.M., dkk. 2005. Relasi Dengan Sesama: Character Building II. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
  • Mila Saraswati dan Ida Widaningsih. 2008. Be Smart Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung: Grafindo Media Pratama.
  • Tallal Alie Turfe. 2007. Al-Shabr Fi Al-Islam “Mukjizat Sabar: Terapi Meredam Gelisah Hati”, diterjemahkan oleh Asep Saifullah. Bandung: Mizania.